Lombok Post Jumat, 07 Mei 2010 14:59
MATARAM—Aktivitas penambangan emas di Kecamatan Sekotong, Lombok Barat menyisakan persoalan lingkungan. Hasil kajian, sedimen sungai di Kecamatan
Sekotong sudah pada tingkat pencemaran berat. Bahkan dari sampel rambut
anak-anak yang diambil terbukti ada kandungan merkuri melewati ambang batas
aman.
Hasil studi kandungan merkuri di kawasan penambangan Sekotong yang dilakukan
Indotan Inc, UGM dan FMIPA Unram disebutkan semua sungai di Sekotong sudah
tercemar sedimentasinya. Di sungai Pelangan Selindungan kadar merkuri pada
sedimennya 3,48 ppm, Selodong 1,09 ppm, Sungai Blongas 0,91 ppm, Sungai Sekotong
0,61 ppm. Sementara dari standar WHO, untuk perairan umum memiliki nilai ambang
batas 0,001 ppm.
‘’Ini data awal hasil kajian akademis, kalau ada pihak yang berkepentingan
silakan dilanjutkan data ini,’’ kata ketua panitia pelaksana seminar hasil
survei pencemaran Sekotong, Drs H Ahmad Jupri, M.Eng usai seminar di Hotel Grand
Legi Mataram, kemarin.
Seminar pemaparan hasil studi ini dipaparkan langsung oleh penanggung jawab Dr
Retno Peni Sancayaningsih, M.Sc dan ketua tim survei Dr Suwarno Hadisusanto.
Dalam seminar ini hadir para praktisi pertambangan, akademisi, pemerintah dan
para mahasiswa. Dalam pemaparan kedua pemateri ini, mereka memaparkan dengan
lengkap proses penelitian tersebut.
‘’Kami memang bukan doraemon yang bisa memberikan semua solusi, ini adalah hasil
survei awal,’’ kata Dr Suwarno menjawab beberapa pertanyaan peserta yang
mempertanyakan validasi data dan metodologi yang digunakan.
Selain sudah mengendap di sedimen sungai, merkuri juga sudah mencemari air
sungai di Sekotong. Pada bagian hulu, air sungai di Batu Montor mengandung
0,00013 ppm, Tembowong GP 0,00013 ppm, Blongas 0,00016 ppm, Pelangan
Selindungan 0,00047 dan Selodong 0,00061. Jika mengacu pada standar WHO 0,001
ppm, maka air sungai di kawasan hulu ini masih dalam kategori pencemaran ringan.
Sementara itu, untuk sungai di bagian tengah Slodong tercemar 0,00213 ppm,
Blongas 0,00694 ppm, dan Pelangan Selindungan 0,00325 ppm. Kategori ini masih
masuk dalam kategori pencemaran sedang.
Anak-anak yang ikut melakukan kegiatan penambangan pun tidak luput dari paparan
merkuri. Dari 13 sampel yang diteliti, rambut anak-anak yang diteliti mencapai
0,31-22,17 ppm. Ini jauh melebihi angka batas aman untuk rambut 0,5–1 ppm. Kadar
merkuri tertinggi ini ditemukan pada penduduk usia 15-30 tahun yang telah
melakukan penggelondongan lebih dari enam bulan. Parahnya, anak-anak yang
berusia 0-4 tahun pun terpapar dengan merkuri mencapai 20,07 ppm.
‘’Kita tidak menggunakan sampel darah karena butuh proses izin yang panjang dari
sampel. Kan tidak seenaknya kita menyedot darah mereka,’’ katanya.
Merkuri-merkuri yang mencemari sungai di Sekotong ini berasal dari aktivitas
penggelondongan. Dari hasil studi ini, tercatat 1.497 buah gelondongan. Dari
jumlah ini, 570 di antaranya langsung membuang limbah ke sungai. Diperkirakan
rata-rata 5-10 persen merkuri tercecer ke lingkungan. Diperkirakan juga intake
merkuri yang masuk ke lingkungan sebanyak 50-100 gram untuk setiap gelondongan
per bulannya.
Hasil survei ini terdengar menakutkan. Penambangan yang dilakukan warga di
Sekotong selama ini tanpa kontrol. Tak sekadar membahayakan nyawa akibat
kecelakaan selama penggalian, rupanya merkuri yang digunakan menjadi bom waktu
yang siap meledak. Kasus minamata di Jepang pun bukan tidak mungkin mengancam
Sekotong pada masa mendatang.
Pada penelitian kandungan merkuri di ikan Glodok, ditemukan kadar merkuri yang
cukup mengkhawatirkan. Pada muara sungai Blongan diidentifikasi kadar merkuri
sebesar 2,07085 ppm, sungai Tembowong Gawah Pudak 0,7445 ppm, sungai Pelangan
Selindungan 0,0566 ppm, sungai Sekotong 0,00952 ppm dan sungai Selodong 0,00358.
Angka ini memang belum mencapai seperti kasus minamata 20-40 ppm. Namun jika
penambangan tanpa kontrol ini terus dilakukan tidak menutup kemungkinan Sekotong
akan menjadi daerah “merah” kasus pencemaran.
Melihat angka-angka hasil survei ini, Sekotong sudah tercemar, dan siapa lagi
yang dituding sebagai penyebab kalau bukan warga yang selama ini melakukan
penambangan dan penggelondongan. Hanya saja, harus ada solusi bijak untuk
mengatasi persoalan ini.
‘’Saya takut melihat hasil ini, tapi perlu juga dipikirkan bagaimana warga yang
menggantungkan hidup di sana,’’ kata Camat Sekotong, L Guntur Gagarin.
Disebutkan Guntur, saat ini diperkirakan ada 8.000 orang yang beraktivitas di
penambangan ini. Tak hanya warga Sekotong saja, melainkan dari kabupaten lain
bahkan dari luar NTB.
‘’Dulu masyarakat pernah minta ditutup, tapi warga juga kemudian yang meminta
untuk dibuka kembali,’’ ujarnya.
Guntur tidak membantah jika aktivitas penambangan yang dilakukan selama ini
berpengaruh pada lingkungan. Hanya saja, perlu juga dipikirkan tentang
kelanjutan mata pencaharian warga. Dia mengusulkan harus ada kerjasama antara
pemerintah, perusahaan dan warga untuk mengelola penambangan Sekotong.
‘’Saya rasa bukan sekadar Sekotong saja yang tercemar, yang perlu kita
khwatirkan juga Sekarbela,’’katanya, membandingkan bahwa tak sekadar Sekotong
saja yang tercemar merkuri.
Ahli geologi yang juga mantan Kepala Dinas Pertambangan, Energi dan Sumberdaya
Mineral NTB, H Heryadi Rachmat menyatakan tak sekadar merkuri yang mencemari
Sekotong. Penggunaan sianida dalam penambangan di Sekotong juga bisa menjadi bom
waktu.
‘’Di pingir jalan dengan mudah kita temukan, berkarung-karung,’’ ujarnya
menyindir.
Apa solusi yang bisa dilakukan ?
Pakar lingkungan Unram yang juga moderator dalam kegiatan seminar ini, Prof H
Agil Al Idrus menyatakan pengelolaan lingkungan harus dilakukan untuk mencegah
bahaya yang lebih besar. Dengan sistem penambangan saat ini, terlalu besar
dampak lingkungan dari pencemaran tersebut.
‘’Pemanfaatannya memang perlu tapi juga harus dikelola dengan management yang
baik,’’ ujarnya.
Adanya rilis hasil penelitian ini, kata Prof. Idrus bisa menjadi landasan bagi
para pengambil kebijakan untuk memberikan solusi pada permasalahan Sekotong.
Tidak semata-mata hanya melihat aspek keuntungan tambang dan lingkungan saja,
aspek sosial dari penambangan ini juga harus dipikirkan.(fat)
Selengkapnya...!